PERSEKUTUAN PENDALAMAN ALKITAB
JEMAAT GMIT TAMARISKA MAULAFA
Kamis, 14 Mei 2026
Bacaan 1: 1 Korintus 1:10-17
Tema: Satu Artinya Tidak Terpecah
Pendahuluan
Dalam
kehidupan bersama, perbedaan sering kali menjadi penyebab pertengkaran dan
perpecahan. Sedikit salah paham dapat membuat hubungan menjadi renggang. Kadang
orang lebih suka mempertahankan ego daripada menjaga persatuan. Akibatnya,
keluarga, persekutuan, bahkan gereja menjadi terpecah.
Firman
Tuhan hari ini mengingatkan bahwa sebagai tubuh Kristus, umat Tuhan dipanggil
untuk hidup dalam kesatuan. Menjadi satu bukan berarti semua harus sama, tetapi
tidak hidup dalam perpecahan dan saling menjatuhkan.
Penjelasan Teks
Jemaat Korintus adalah
jemaat yang hidup di tengah kota besar dengan berbagai pengaruh budaya dan cara
berpikir dunia. Walaupun mereka percaya kepada Kristus, kehidupan jemaat masih
dipenuhi masalah, salah satunya adalah perpecahan.
Ada kelompok yang berkata: “Aku
dari Paulus,” “Aku dari Apolos,” “Aku dari Kefas,” bahkan ada yang berkata “Aku
dari Kristus.”
Mereka mulai membanggakan
pemimpin masing-masing dan merasa kelompoknya paling benar. Akibatnya, jemaat
kehilangan kesatuan dan mulai terpecah.
Karena itu Paulus
menasihati mereka supaya kembali hidup sehati dan sejiwa di dalam Kristus.
1.
Paulus
Memanggil Jemaat untuk Hidup Sehati (ay. 10)
Paulus menasihati jemaat: “Supaya kamu
seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu.” Paulus tidak ingin
jemaat hidup dalam pertengkaran dan kelompok-kelompok kecil. Ia mengingatkan
bahwa gereja adalah tubuh Kristus yang harus hidup dalam kasih dan persatuan.
“Satu” berarti memiliki hati yang sama
dalam Tuhan, walaupun memiliki perbedaan latar belakang, pendapat, dan
kemampuan.ayat ini mengajarkan bahwa Kesatuan adalah tanda kedewasaan rohani
umat Tuhan.
2.
Perpecahan
Muncul Karena Manusia Lebih Mengutamakan Kelompok daripada Kristus (ay. 11–13)
Paulus mendengar bahwa jemaat saling
bertengkar karena membanggakan tokoh tertentu. Mereka lebih fokus kepada
manusia daripada kepada Kristus.
Karena itu Paulus berkata: “Adakah
Kristus terbagi-bagi?” Artinya, Kristus tidak pernah menghendaki umat-Nya hidup
terpecah. Ketika manusia lebih meninggikan kelompok, pemimpin, atau kepentingan
pribadi, maka persatuan akan rusak. Perpecahan sering lahir dari kesombongan
dan keinginan merasa paling benar.
3.
Inti
Pelayanan Adalah Kristus, Bukan Manusia (ay. 14–17)
Paulus menegaskan bahwa tugas utamanya
bukan membuat orang berpihak kepadanya, tetapi memberitakan Injil Kristus.Ia
tidak ingin jemaat bergantung pada manusia. Semua pelayan Tuhan hanyalah alat,
sedangkan pusat iman tetap Kristus.disini kita dapat memahami bahwa gereja akan
tetap kuat jika Kristus menjadi pusat, bukan manusia.
1 Korintus 1:10–17 mengingatkan bahwa
umat Tuhan dipanggil hidup dalam kesatuan. Menjadi satu berarti tidak hidup
dalam perpecahan, pertengkaran, dan saling meninggikan diri. Ketika Kristus
menjadi pusat kehidupan bersama, maka umat Tuhan dapat hidup sehati, saling
mengasihi, dan menjadi kesaksian yang baik bagi dunia.
Dari bacaan ini beberapa hal menjadi
bahan refleksi :
1.
Menjadi
satu berarti belajar mengalahkan ego demi menjaga persatuan.
Perpecahan sering terjadi bukan karena
masalah besar, tetapi karena manusia sulit merendahkan hati. Ingin dihargai,
ingin menang sendiri, dan merasa paling benar akhirnya membuat hubungan rusak.
Bacaan ini mengingatkan bahwa menjadi satu berarti mau belajar saling menerima
dan menjaga hati. Dalam keluarga, pelayanan, maupun kehidupan bergereja, pasti
ada perbedaan pendapat dan karakter. Namun Tuhan tidak memanggil umat-Nya untuk
saling menjauh, melainkan belajar hidup dalam kasih. Kesatuan tidak lahir karena
semua orang sama, tetapi karena semua mau menjadikan Kristus sebagai pusat
kehidupan bersama. Ketika ego lebih besar daripada kasih, maka perpecahan mudah
terjadi. Tetapi ketika kasih Kristus memenuhi hati, orang akan belajar
mengampuni, mendengar, dan menjaga persaudaraan.
2.
Jangan
menjadikan manusia lebih penting daripada Kristus
Jemaat Korintus mulai terpecah karena
terlalu membanggakan tokoh-tokoh tertentu. Hal seperti ini juga sering terjadi
sekarang. Kadang orang lebih setia kepada kelompok, pemimpin, atau kepentingan
pribadi daripada kepada Tuhan sendiri. Akibatnya muncul iri hati, persaingan,
dan saling menjatuhkan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa semua manusia terbatas
dan tidak sempurna. Karena itu pusat iman harus tetap Kristus. Gereja bukan
milik satu kelompok atau satu orang, tetapi milik Tuhan. Ketika Kristus menjadi
pusat, maka umat akan belajar hidup rendah hati dan tidak mudah terpecah karena
perbedaan. Kita dipanggil untuk membangun persekutuan yang saling menguatkan,
bukan saling menghancurkan.
3.
Kesatuan
adalah kesaksian yang kuat bagi dunia.
Dunia sekarang penuh pertengkaran,
kebencian, dan perpecahan. Karena itu ketika orang percaya hidup dalam kasih
dan persatuan, hal itu menjadi kesaksian yang indah. Sebaliknya, jika gereja
penuh konflik dan saling menjatuhkan, orang luar sulit melihat kasih Kristus di
dalamnya. Bacaan ini mengingatkan bahwa kesatuan bukan hanya kebutuhan gereja,
tetapi juga panggilan iman. Tuhan mau umat-Nya menjadi pembawa damai dan
membangun hubungan yang sehat dengan sesama. Kesatuan memang tidak selalu
mudah, tetapi dengan pertolongan Tuhan, setiap orang percaya dapat belajar
hidup sehati dan tidak terpecah.
Pertanyaan :
1.
Mengapa
perpecahan mudah terjadi dalam kehidupan bersama?
2. Bagaimana cara menjaga persatuan di tengah banyak perbedaan?
Bacaan 2: 1 korintus 3:1-9
Tema: Jadilah Dewasa
Pendahuluan
Setiap
orang pasti ingin bertumbuh menjadi dewasa. Anak kecil yang terus bersikap
seperti bayi akan sulit berkembang. Demikian juga dalam kehidupan rohani. Tuhan
tidak menghendaki orang percaya terus hidup dalam kerohanian yang
kekanak-kanakan, tetapi bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dalam iman.
Kedewasaan
rohani bukan dilihat dari lamanya seseorang ke gereja atau banyaknya
pengetahuan Alkitab, tetapi dari sikap hidup yang semakin mencerminkan Kristus.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar menjadi dewasa dalam iman dan
kehidupan bersama.
Penjelasan teks
Jemaat
Korintus adalah jemaat yang kaya karunia rohani, tetapi mereka juga penuh
persoalan. Walaupun sudah lama mengenal Kristus, kehidupan mereka masih
dipenuhi iri hati, pertengkaran, dan perpecahan.
Mereka
saling membanggakan pemimpin tertentu:ada yang memihak Paulus,ada yang memihak
Apolos.Karena itu Paulus menegur mereka dengan keras. Ia mengatakan bahwa
mereka masih “bayi” dalam Kristus karena cara hidup mereka masih dikuasai
keinginan duniawi.
Melalui
bagian ini Paulus ingin mengajar jemaat bahwa orang percaya harus bertumbuh
menuju kedewasaan rohani.
1.
Orang
yang Belum Dewasa Masih Dikuasai Keinginan Duniawi (ay. 1–3)
Paulus berkata bahwa ia belum dapat
berbicara kepada jemaat sebagai manusia rohani, tetapi sebagai manusia duniawi
dan bayi dalam Kristus.Ia menggambarkan mereka seperti bayi yang hanya dapat
menerima susu dan belum mampu menerima makanan keras. Artinya, kerohanian
mereka belum bertumbuh.
Bukti ketidakdewasaan itu terlihat melalui: iri hati, perselisihan, pertengkaran. poin ini mengajarkan bahwa Kedewasaan rohani terlihat dari perubahan sikap hidup, bukan hanya dari pengakuan iman.
2.
Kedewasaan
Rohani Membuat Orang Tidak Membanggakan Manusia (ay. 4–5)
Jemaat Korintus terpecah karena
membanggakan Paulus dan Apolos. Mereka lupa bahwa semua pelayan Tuhan hanyalah
alat yang dipakai Allah.
Paulus menegaskan: “Apakah Apolos? Apakah
Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan. ”Artinya, pusat iman bukan manusia, tetapi Tuhan
sendiri. Orang yang dewasa rohani akan lebih fokus kepada Tuhan daripada kepada
manusia.
3.
Tuhanlah
yang Memberi Pertumbuhan (ay. 6–9)
Paulus memakai gambaran pertanian:Paulus
menanam,Apolos menyiram,tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Ini menunjukkan
bahwa semua pelayanan adalah kerja bersama, tetapi hasil akhirnya berasal dari
Tuhan.
Karena itu tidak ada alasan untuk sombong atau
merasa lebih hebat.disini kita renungkan bahwa Kedewasaan rohani membuat
seseorang rendah hati dan sadar bahwa semua berasal dari Tuhan.
1 Korintus 3:1–9 mengingatkan bahwa Tuhan memanggil
setiap orang percaya untuk bertumbuh menjadi dewasa rohani. Kedewasaan itu
terlihat melalui hidup yang penuh kasih, rendah hati, tidak mudah terpecah, dan
selalu bergantung kepada Tuhan. Karena itu, jangan berhenti sebagai “bayi
rohani,” tetapi teruslah bertumbuh menjadi pribadi yang semakin serupa dengan
Kristus.
Dari teks ini,beberapa hal menjadi bahan
refleksi :
1.
Kedewasaan
rohani terlihat dari sikap hidup sehari-hari
Sering kali orang mengukur kerohanian
dari penampilan luar: rajin ke gereja, aktif melayani, atau pandai berbicara
tentang firman Tuhan. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa kedewasaan rohani justru
terlihat dari sikap hidup. Jemaat Korintus sudah percaya kepada Kristus, tetapi
masih hidup dalam iri hati dan pertengkaran. Itu sebabnya Paulus menyebut
mereka masih seperti bayi rohani. Hari ini Tuhan juga menghendaki kita
bertumbuh menjadi dewasa dalam iman. Artinya kita belajar mengendalikan emosi,
tidak mudah marah, tidak suka memfitnah, mau mengampuni, dan hidup dalam kasih.
Orang yang dewasa rohani tidak lagi hidup menurut keinginan diri sendiri,
tetapi belajar hidup menurut kehendak Tuhan. Kedewasaan rohani adalah proses
yang harus terus dilatih setiap hari melalui doa, firman Tuhan, dan kehidupan
yang taat.
2.
Orang
dewasa rohani tidak mudah terpecah karena perbedaan.
Jemaat Korintus bertengkar karena terlalu
membanggakan tokoh tertentu. Hal itu menunjukkan bahwa mereka masih berpikir
secara duniawi. Sampai hari ini hal yang sama masih sering terjadi dalam
keluarga, pelayanan, dan gereja. Manusia mudah terpecah karena perbedaan
pendapat, kelompok, atau kepentingan pribadi. Firman Tuhan mengajarkan bahwa
kedewasaan rohani membuat seseorang mampu menghargai orang lain dan menjaga
persatuan. Orang yang dewasa tidak sibuk meninggikan diri atau kelompoknya,
tetapi mau bekerja sama untuk kemuliaan Tuhan. Ketika Kristus menjadi pusat
kehidupan, maka ego pribadi perlahan dikalahkan dan hubungan dengan sesama
menjadi lebih baik. Tuhan memanggil umat-Nya untuk bertumbuh dari sikap
kekanak-kanakan menuju kehidupan yang penuh kasih dan damai.
3.
Kedewasaan
rohani melahirkan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Tuhan
Paulus menyadari bahwa dirinya hanyalah
alat di tangan Tuhan. Ia menanam dan Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi
pertumbuhan. Ini mengajarkan bahwa keberhasilan pelayanan dan pertumbuhan hidup
tidak berasal dari kekuatan manusia semata. Orang yang dewasa rohani tidak
mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah putus asa ketika gagal, sebab ia
sadar Tuhanlah yang bekerja dalam hidupnya. Dalam kehidupan sekarang, manusia
sering ingin dipuji dan dihormati karena keberhasilannya. Tetapi firman Tuhan
mengingatkan bahwa semua yang dimiliki adalah anugerah Tuhan. Karena itu orang
percaya harus hidup rendah hati, saling menghargai, dan tetap bergantung kepada
Tuhan dalam segala hal. Ketika seseorang hidup demikian, ia sedang menunjukkan
tanda kedewasaan rohani yang sesungguhnya.
Pertanyaan:
1.
Apa
tanda-tanda seseorang belum dewasa secara rohani?
2.
Bagaimana
cara bertumbuh menjadi dewasa dalam iman kepada Tuhan?
Berikan Komentar