Diutus Dan Diperlengkapi

Pendalaman Teks

Teks ini adalah bagian dari perjalanan Yesus menuju Yerusalem (Lukas 9:51–19:27), yang penuh dengan pengajaran penting tentang murid sejati dan misi Kerajaan Allah. Setelah memilih dan mengutus dua belas murid dalam Lukas 9, kini Yesus mengutus tujuh puluh (beberapa manuskrip menyebut tujuh puluh dua), sebagai perluasan misi-Nya.

§  Ayat 1 -> Yesus memilih dan mengutus 70 orang. Pemilihan dilakukan oleh Yesus sendiri menandakan misi ini berasal dari kehendak Allah, bukan keinginan manusia.Yesus bertindak sebagai “Tuan tuaian” yang mengutus para pekerja-Nya ke ladang misi. Mereka diutus berdua-dua menunjukkan pentingnya kerja sama yaitu saling dukungan, saling menguatkan, dan kesaksian Bersama (bdk. Ul. 19:15 – kesaksian sah harus dua orang).

§  Ayat 2 -> Dunia di ibaratkan sebagai ladang yang siap dituai. Artinya, dunia menjadi tempat untuk misi Allah dilakukan, sebab dunia penuh dengan jiwa yang membutuhkan kabar baik. Akan tetapi, kurangnya para pekerja yang bersedia melayani. Oleh karena itu perlu berdoa sebagai tindakan pertama dalam misi. Doa yang bukan sekadar menunggu atau mengeluh tetapi doa yang dapat menggerakkan hati kita untuk turut ambil bagian dalam misi itu. Sebab inisiatif pelayanan datang dari Tuhan, bukan hanya dari semangat manusia.

§  Ayat 3 -> Ketika diutus tentunya ada resiko yang akan dihadapi tiap pelayan yang diibaratkan sebagai anak domba ke tengah-tengah serigala. Anak domba adalah simbol kelemahan dan ketidakberdayaan, sedangkan serigala mewakili kekerasan, ancaman, dan penolakan dunia. Dengan demikian pengutusan para murid tidak ada jaminan kenyamanan, tapi ada jaminan penyertaan.

§  Ayat 4 -> Dalam menjalani pengutusan, mereka tidak boleh membawa perbekalan atau perlengkapan duniawi. Ini artinya bahwa mereka tidak boleh mengandal kekuatan duniawi atau kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan pemeliharaan dan selalu bergantung kepada Tuhan. Sebab misi bukan soal fasilitas, tapi kesetiaan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Selain itu, setiap murid dilarang memberi salam panjang di jalan, artinya misi pelayanan yang mereka lakukan adalah sesuatu hal bersifat mendesak dan tidak boleh menunda.

§  Ayat 5-7 -> Para murid harus membawa damai sebagai pesan utama. Damai (shalom) dalam Alkitab bukan hanya ketenangan, tapi juga keselamatan dan berkat dari Allah. Tuan rumah menjadi rekan pelayanan; menerima pelayanan rohani dan memberikan dukungan jasmani. Selain itu, para murid tidak berpindah-pindah rumah, artinya tidak serakah dan tidak oportunis. Sebab mereka hadir dengan niat tulus, bukan mencari keuntungan, tapi membawa damai dan kesembuhan. Mereka senantiasa hidup dengan rasa cukup dan hormat pada orang yang melayani mereka.

§  Ayat 8-9 -> Misi Injil bukan hanya kata-kata, tap juga perbuatan nyata, yaitu menyembuhkan, menghibur, dan menolong. Sebab inti pesan dari misi adalah Kerajaan Allah sudah dekat. Ini berarti bahwa kehadiran dan kuasa Allah segera hadir di tengah umat manusia melalui Kristus. Dengan demikian pelayanan Injil harus bersifat inklusif, relevan dan nyata; menyentuh tubuh dan jiwa; dan menyampaikan pengharapan dan keselamatan.

§  Ayat 10-12 -> Ketika melayani orang dan ditolak, para murid diminta tidak memaksa melainkan memberi peringatan. Tindakan menyapu debu adalah simbol pelepasan tanggung jawab dan peringatan serius akan penghakiman. Sebab penolakan terhadap para utusan sama dengan penolakan terhadap Allah – dan ada penghakiman bagi kota yang menolak. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya respon terhadap Injil.

 

Dari teks, ada beberapa pembelajaran yang bisa dipetik dan dikembangkan:

1.      Mager: Antara Malas Gerak dan Masuk Gereja. Mager adalah singkatan populer dari "malas gerak", istilah yang akrab di kalangan anak muda bahkan orang dewasa zaman sekarang. Biasanya digunakan untuk menggambarkan perasaan enggan melakukan aktivitas fisik atau sosial — termasuk beribadah ke gereja. Mager: Gejala Fisik atau Spiritualitas? Pada satu sisi, mager bisa jadi sekadar kelelahan fisik atau mental.Tapi jika terus-menerus jadi alasan untuk tidak beribadah, mager bisa berkembang jadi sikap spiritual yang malas dan pasif. Mager bukan cuma soal tubuh yang malas gerak, tetapi bisa mencerminkan hati yang mulai suam-suam kuku terhadap Tuhan. Mager dan Iman yang Mandek. Yesus memanggil kita untuk “pergi” dan “melayani” — dua kata kerja aktif. Tapi ketika kita membiarkan mager menguasai diri, kita berhenti menjadi saksi Kristus. Kita menjadi penonton, bukan pelaku iman. Ayat 2 -> Dunia di ibaratkan sebagai ladang yang siap dituai. Artinya, dunia menjadi tempat untuk misi Allah dilakukan, sebab dunia penuh dengan jiwa yang membutuhkan kabar baik. Akan tetapi, kurangnya para pekerja yang bersedia melayani. Masuk Gereja: Bukan Rutinitas, Tapi Respons Kasih.

Masuk gereja bukan soal menggugurkan kewajiban, tapi menanggapi kasih Allah yang lebih dulu menggerakkan kita. Melawan mager bukan karena takut dosa, tapi karena kita rindu berjumpa dengan Tuhan dan sesama umat-Nya. Apakah kita mager secara jasmani dan rohani? Apakah aku masih antusias menyambut hari Minggu atau kebaktian di hari lain?

Apakah aku membiarkan mager membuatku jauh dari komunitas iman? Mari lawan mager bukan dengan semangat manusiawi saja, tapi dengan kasih Kristus yang menggerakkan hati kita untuk terus melangkah dalam pelayanan dan persekutuan. Iman yang hidup adalah iman yang bergerak.

2.      Berikut ini beberapa catatan perenungan: Pertama, Tugas Perutusan: Panggilan yang Serius (ayat 1–3). “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Yesus mengajak murid-murid untuk melihat kebutuhan besar dunia ini akan Injil. Mereka diutus dua-dua, menandakan bahwa pelayanan bukanlah usaha pribadi, melainkan kerja tim yang saling menopang. Kita tidak dipanggil untuk diam, tetapi untuk pergi. Kita dipanggil bukan karena kita siap, tetapi karena Tuhan yang mengutus akan memampukan.

Kedua, Diperlengkapi dengan Sikap, Bukan Materi (ayat 4–8). “Jangan membawa pundi-pundi, jangan membawa bekal.” Yesus tidak mengizinkan murid-murid membawa perbekalan yang banyak. Kenapa? Karena misi ini mengandalkan penyertaan Tuhan, bukan kekuatan sendiri. Mereka diharapkan hidup dalam ketergantungan penuh pada Allah dan keramahan orang-orang yang menerima mereka. Tuhan memperlengkapi kita dengan iman, kerendahan hati, dan ketaatan. Kadang, kita terlalu mengandalkan “perlengkapan dunia”, padahal yang terutama adalah hati yang siap dan taat.

Ketiga, Membawa Damai dan Kesembuhan (ayat 5–9). Mereka tidak hanya membawa kabar baik, tetapi juga menyatakan kuasa Allah melalui damai dan kesembuhan. Kehadiran mereka harus menjadi berkat bagi rumah yang mereka datangi. Sebagai utusan Kristus, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, bukan perpecahan. Kita bukan hanya menyampaikan kata-kata, tetapi juga menunjukkan kasih melalui tindakan nyata.

Keempat, Menanggapi Penolakan dengan Keteguhan (ayat 10–12). Yesus juga memperingatkan bahwa tidak semua akan menerima mereka. Namun, para murid harus tetap menyampaikan pesan, bahkan ketika ditolak. Penolakan bukan kegagalan, melainkan bagian dari misi. Jangan takut ditolak — tetap setia pada tugas. Penolakan terhadap kita bisa berarti penolakan terhadap Kristus, dan itu ada konsekuensinya.



Pendalaman Teks

Teks ini merupakan bagian dari konteks pengutusan dan kembalinya ke-70 murid yang diutus oleh Yesus (Lukas 10:1–20). Setelah mereka kembali dengan sukacita karena kuasa atas roh-roh jahat, Yesus mengarahkan mereka untuk bersukacita bukan karena kuasa itu, melainkan karena nama mereka tercatat di surga (Luk. 10:20). Lalu muncullah bagian ini—sebuah doa syukur dan pewahyuan kasih karunia.

§  Ayat 21 -> Bersukacita dalam Roh Kudus menunjukkan bahw ini adalah sukacita Ilahi bukan emosional belaka. Sukacita ilahi (kata Yunani: agalliaõ) yang menyiratkan sukacita yang meluap karena perjumpaan dengan karya Allah. Sukacita ini muncul bukan karena keberhasilan pelayanan murid-murid (ay. 17-20), melainkan karena rencana keselamatan Allah yang menyatakan diri kepada orang yang rendah hati. Oleh karena itu, Yesus memuji Bapa karena Ia menyembunyikan hal-hal rohani dari orang bijak dan pandai, dan menyatakan kepada “anak-anak”. Anak-anak kecil merupakan simbol dari orang-orang yang tidak terpandang, polos, dan terbuka untuk percaya. Ini menunjukkan bahwa pewahyuan Allah bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah. Pewahyuan Allah menembus hati yang bersih dan sederhana. Pewahyuan Allah lebih dekat kepada mereka dibandingkan yang merasa diri “tahu segalanya.” Pada dasarnya, sukacita Kristus muncul dari fakta bahwa keselamatan bukanlah hasil kerja keras intelektual atau status, tetapi kasih karunia Allah yang dinyatakan kepada siapa yang mau menerima-Nya.

§   Ayat 22 -> Yesus mengklaim otoritas Ilahi sebagai satu-satunya perantara antara Bapa dan manusia. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal Bapa selain melalui Anak. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah pengantara eksklusif, di mana segala otoritas dan pengetahuan akan Bapa berada dalam Kristus. Kata “diserahkan ” menyiratkan penyerahan otoritas Ilahi yang total – mencerminkan hubungan Tritunggal yang era tantara Bapa dan Anak. Ini jug mempertegas teologi pewahyuan bahwa Allah tidak bisa dikenali secara penuh lewat usaha manusia, tetapi melalui perantara yang ditetapkan-Nya, yaitu Yesus.  

§  Ayat 23-24 -> Yesus memuji murid-murid karena mereka mengalami langsung kehadiran Sang Mesias. Ini adalah pengalaman Istimewa yang tidak dinikmati oleh nabi-nabi dan raja-raja besar sebelumnya. Mereka “melihat dan mendengar” yang menunjukkan pada pengalaman langsung akan kebenaran Injil, bukan hanya pewartaan atau nubuat. Sebab, kebahagiaan karena Kristus bbukan terletak pada kekuatan atau keajaiban, tetapi pada penyertaan-Nya secara pribadi dalam hidup.  

Dari teks, ada beberapa pembelajaran yang bisa dipetik dan dikembangkan:

1.      Semua orang di dunia ini ingin bahagia. Tidak ada satu pun manusia yang bercita-cita untuk hidup dalam kesedihan. Namun, pertanyaannya adalah: dari mana kebahagiaan itu kita peroleh? Apakah dari hal-hal duniawi? Ataukah dari hubungan kita dengan Kristus?

Banyak orang mencari kebahagiaan melalui dunia. Mereka mengejar harta, jabatan, kekuasaan, pujian, pencapaian, bahkan popularitas. Ketika hal-hal itu berhasil mereka raih, mereka merasa puas, senang, dan bangga. Tetapi, kebahagiaan yang bersumber dari dunia bersifat sementara dan rapuh. Saat semuanya hilang — saat kekayaan lenyap, jabatan dicopot, atau relasi rusak — maka hilang pula kebahagiaan itu. Dunia hanya bisa memberi kita kebahagiaan yang sesaat, seperti uap yang muncul sebentar lalu lenyap.

Berbeda dengan kebahagiaan dari Kristus. Kebahagiaan yang datang dari Kristus bukan tergantung pada keadaan di luar, melainkan berasal dari hati yang mengenal dan mengalami kasih Allah. Bahagia karena Kristus adalah ketika kita sadar bahwa hidup kita dikasihi, diselamatkan, dan diperhatikan oleh Tuhan yang Mahakuasa. Kebahagiaan ini tidak bisa direnggut oleh dunia, bahkan dalam penderitaan pun kita masih bisa bersukacita.

Yesus sendiri berkata dalam Lukas 10:23, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.” Murid-murid Yesus berbahagia karena mereka mengalami secara langsung kehadiran Kristus, mengenal kasih Allah, dan menjadi bagian dalam karya keselamatan. Kebahagiaan mereka tidak berasal dari keberhasilan pelayanan, tapi dari hubungan mereka dengan Tuhan.

Lukas 10:21–24, Yesus menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari apa yang kita miliki atau capai, tetapi dari siapa yang kita kenal dan kepada siapa kita percaya — yaitu Kristus sendiri. Berikut beberapa pokok perenungan: Pertama, Sukacita Yesus: Bersumber dari Roh Kudus (ayat 21). “Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus...”
Yesus bergembira bukan karena kesuksesan pelayanan murid-murid-Nya, tetapi karena rencana keselamatan Allah sedang digenapi. Ia bersukacita karena kerajaan Allah dinyatakan kepada orang-orang sederhana, bukan kepada orang yang merasa bijak dan pandai menurut dunia. Sukacita sejati bukan soal keberhasilan, tapi karena kehendak Bapa dinyatakan dalam hidup kita. Orang yang rendah hati dan terbuka akan lebih mudah menerima rahmat Allah.

Kedua, Berbahagia karena Mengenal Kristus (ayat 22). “Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku…”. Yesus menyatakan bahwa hanya melalui Dia, seseorang dapat mengenal Bapa. Artinya, Yesus adalah jalan menuju kebahagiaan sejati, karena hanya Dia yang bisa memperkenalkan kita kepada Allah yang hidup. Hubungan pribadi dengan Kristus adalah dasar kebahagiaan sejati. Tanpa Yesus, pengenalan akan Allah hanya menjadi pengetahuan kosong, bukan pengalaman hidup.

Ketiga, Berbahagia karena Melihat dan Mendengar (ayat 23–24). “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.”. Yesus menekankan bahwa para murid diberi privilege rohani — mereka melihat, mendengar, dan mengalami langsung karya Allah melalui Kristus. Bahkan nabi-nabi besar pun merindukan hal itu tapi tidak mengalaminya. Kita berbahagia bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena kita melihat dan mengalami anugerah Kristus setiap hari. Iman kita adalah warisan berharga yang lebih mulia dari emas. Kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, tetapi dari dalam — saat kita tahu bahwa kita dikasihi oleh Allah melalui Yesus Kristus. Dunia bisa menawarkan kesenangan sesaat, tapi hanya Kristus yang memberi damai dan sukacita yang kekal.